Spiritual

Perkembangan Modernisme Islam di Abad 20

Modernisasi islam yang digaungkan sejak jaman Jamaluddin al Afghani dan Muhammad Abduh, pada ahirnya berubah jadi puritanisme setelah melakukan kawin silang dengan wahabi di satu sisi dan IM di sisi lain. Modernisme islam pun berubah jadi pemujaan pada segala macam produk barang mewah utamanya di Saudi dan negara arab lain (yang hampir semua produk ini buatan kafir), keinginan untuk menegakan apa yang mereka sebuat “syariat islam”, dan formalisasi agama dalam hukum negara dan keluarga.

Modernisme islam bisa dibilang mengalami kegagalan karena adanya faktor genetik. Yaitu kecenderungan untuk jatuh pada posisi “tukang stempel halal dan haram”, semakin mundurnya wacana-wacana keilmuwan, sikap egosentris dan megalomaniak dan terorisme sebagai puncak perkembangannya. Keempat bentuk ini dalam iklim modernisme islam berjalan secara bertahap, selangkah demi selangkah diawali dengan jargon “basmi bid’ah , tahayul dan khurafat” dan “kembali pada quran dan hadits”.

Secara genetik, wacana asli keilmuwan islam itu sangat terbatas dan sempit, sesempit ruang hidup islam di Madinah. Apa yang disebut “kemajuan islam” sejatinya merupakan kebangkitan peradaban Mesopotamia dan Babilon yang telah diberi stempel islam. Itu sebabnya, dalam kultur wahabi, tokoh-tokoh muslim dari varian Mesopotamia ini (seperti Ibnu Sina dan al Farabi) dianggap sesat bahkan kafir. Tidak mewakili islam sama sekali.

Karena sempitnya wacana keilmuwan islam ditambah sikap egois dan megalomaniak, menolak pengaruh budaya luar yang dianggap “syirik dan kafir”, pada ahirnya kaum modernis ini berubah menjadi “tukang stempel” untuk berbagai macam produk buatan orang kafir. Mereka memilih jadi tukang stempel karena jika mereka menciptakan produk sendiri, produk tersebut cenderung gagal di pasar, mengalami keguguran atau layu sebelum berkembang.

Produk politik dari kalangan ini pun sama saja. Selalu tercipta banyak partai yang “tahsabuhum jamii’an wa quluubuhum syatta”, “kita mengira mereka bersatu padahal hati mereka tercerai-berai”, kekanak-kanakan, miskin ide terutama ide-ide besar untuk kepentingan semua orang karena pengaruh sikap egois dan megalomaniak, miskin wacana keilmuwan dan sangat bangga dengan “yang permukaan”.

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close